Let’s Go..Blog..!! He…He..!!

Ajang komunikasi untuk semua sahabat dari sahabat-sahabatnya sahabat-sahabat saya..!!

Archive for July 5th, 2008

Penataan lingkungan Depok, akankah jadi Jakarta berikutnya..?

Posted by Let'sGo on Saturday, 5 July, 2008

Dulu..sekali waktu saya SD sampai SMP sekitar tahun 75 s/d 80 saya tinggal di Tebet, dan saat itu kalau denger kata Depok.., itu artinya piknik cari buah-buahan. Waktu itu jalan ke Depok masih sempit tapi indah karena mulai dari Pancoran kearah Pasar minggu sampai ke Depok dikiri-kanan jalan masih sering terlihat sawah. Kalau hari Minggu sering saya dan beberapa temen pergi ke Depok naik oplet ala Si Doel dari Pasar Minggu, atau naik kereta ‘ngebul’ jurusan Bogor.

Perjalanan dari Tebet ke Depok saat itu benar-benar bisa dinikmatin, sama sekali tidak ada yang namanya ‘macet’ apalagi pake ‘total’, masih ada becak, delman, dan kadang-kadang cikar sapi. Gimana mau macet, yang di Jakarta aja lalulintas masih sangat lancar terkendali..!!

Saat itu stasiun kereta di Depok cuma satu dan bergaya jadul, keretanya juga kereta jadul dengan gerbong kayu yang ternyata justru jauh lebih ‘aman’ daripada KRL dan KRD saat ini, ngga’ ada cerita duduk diatap gerbong apalagi ‘kesetrum sampai hangus’. Juga ngga ada cerita orang atau kendaraan ketabrak kereta, mungkin saat itu rata-rata orang masih sopan dan ‘tau diri’ (tau dimana harus berdiri..he..he..!!).

Pokoknya..kita sangat bersyukur dapat kesempatan jadi anak jadul, bisa menikmati ‘aslinya Depok’, bisa naik oplet tanpa takut dihipnotis, bisa naik kereta bebas copet, dan bisa ketemu ‘Orang Depok Asli’ yang cepet akrab, seneng ngobrol, sederhana, agamis, menjunjung tinggi kejujuran, dan selalu menerima ‘pendatang’ sebagai saudara yang dihormati.

Dua puluh tahun kemudian…!!

Saya kembali ke Depok.., dan saya sekeluarga jadi penduduk Depok. Sampai saat ini saya sudah delapan tahun tinggal di Depok, dan selama itu juga saya kehilangan ‘Depok’ saya yang dulu.

Kalau dulu, begitu masuk daerah Lenteng Agung langsung terasa suasana ‘pedesaan/luar kota’, sedangkan sekarang saya susah membedakan yang mana Jakarta, yang mana Depok. Sama padetnya, sama macetnya, sama cueknya, sama nggak perduli lingkungannya, dan yang paling ‘menakjubkan’ sama-sama banyak jalan sempit/gang dan tata ruang semrawut yang nyata-nyata menjadi bukti bahwa ‘kita’ tidak pernah mampu belajar dari pengalaman.

Seperti juga kota-kota satelit Jakarta lainnya baik Bekasi, atau Tangerang, Depok tumbuh berkembang pesat dengan pola ‘fotocopy’ Jakarta tempo doeloe, dari ‘kampung’ menjadi ‘kota’ tanpa konsep tata ruang yang jelas. Sekarang ini memang ‘pusat kota’ Depok adalah Jalan Margonda Raya, sama seperti Jakarta dulu ‘Sudirman-Thamrin’ dan ‘Gajahmada-Hayamwuruk’. Dalam beberapa tahun lagi pusat kota yang semrawut itu akan menjalar kearah Citayam diselatan, Jalan Juanda, dst…dst. Hingga proses paling bodoh dalam pengelolaan tata ruang suatu wilayah yaitu ‘penggusuran’ pasti akan terjadi di Depok maupun kota-kota lain yang ternyata ditata oleh orang-orang yang tidak tertata.

Saya sungguh tidak mengerti bagaimana suatu wilayah yang tadinya kosong dan masih sangat mudah untuk ditata seperti ‘Depok 28 Tahun yang lalu’, kemudian berhasil sangat sukses meniru kesemrawutan Jakarta. Sementara semua yang tadinya merasa paling berwenang mengatur-atur kemudian jadi pemain basket yang handal dan ahli ‘melempar bola’ tanggung jawab kepihak lain.

Sampai saat ini, satu-satunya yang membuat saya merasakan adanya perbedaan antara Depok dan Jakarta ya…cuma satu yaitu status ‘Banjir’. Nggak beda jauh sih..!! Depok bagian ‘ngirim’ dan Jakarta bagian ‘nerima’…he…he..!!. Tapi..percayalah, jangan bangga dulu jadi ‘pengirim’ karena dengan pola ’salah urus’ yang sama dengan Jakarta saat ini, maka suatu saat yang tidak terlalu lama lagi kita juga bisa berubah status menjadi ‘penerima’ bersama-sama dengan Jakarta.

Pada dasarnya ‘Depok’ seharusnya adalah daerah resapan  bagi Jakarta, sehingga konsep tata ruangnya harus mengutamakan ruang terbuka hijau. Tetapi fakta membuktikan bahwa perkembangan pembangunan segala jenis property seperti perumahan dan pusat pertokoan yang kurang ramah lingkungan tercatat paling pesat terjadi di ‘Depok’ dibanding wilayah lain seputar Jakarta. Semua ‘perusahaan’ pengembang perumahan di sekitar Depok selalu menjual ‘gimmick’ nuansa ‘alami’/'asri’ / ‘hijau’ / ‘berhawa segar’ / ‘bebas kemacetan (lewat udara)’ / ‘lingkungan tertata’, dst.

Benarkah semua cerita ‘alami asri hijau berhawa segar bebas macet dan lingkungan tertata’ itu akan bisa bertahan sampai ke anak-anak….. kita ? (mau nyebutin cucu juga..tapi lebih nggak yakin..lagi??). Mungkin saat ini benar adanya kalau suatu lingkungan perumahan yang dibangun pengembang ‘terpercaya’ bisa tertata dan asri, tetapi seperti yang telah mulai dirasakan oleh banyak penghuni komplek perumahan di Depok dan sekitarnya, tertata dan asri hanya dapat dirasakan sampai ke gerbang komplek, sedangkan selanjutnya ‘terserah’ anda alias IDL BUG ( Itu Derita Loe Bukan Urusan Gue…he…he..!).

Herannya, tanpa memperhatikan daya dukung / kapasitas ruas jalan yang ada di Depok (yang ’sumpeh lu’ kagak nambah-nambah), yang ‘poenya koeasa van Depok’  dengan semena-mena menerapkan semangat ‘reformasi menang sendiri’ dengan ‘menabur ijin menuai komisi’ sehingga terbukti mulai berhasil menyaingi prestasi Jakarta dalam ‘memacetkan’ jalan dan menyesakkan dada ‘warga yang katanya dilayani dan dicintainya’.

Sesuai dengan pernyataan bersama saat PILKADA dulu, ‘Yang Poenya Koeasa Van Depok’ telah berikrar untuk ‘Siap Menang Siap Kenyang’, maka harap dimaklumi rumus bahwa untuk bisa ‘kenyang’ tentu wajib ‘makan’ sehingga sudah berlaku menjadi ‘Sunnah mu’akkad’ untuk ‘memakan’ apa saja yang bisa ‘dimakan’ agar tidak mengalami ‘rawan pangan’ apalagi harus bayar ‘hutang’ politik kepada ‘rekanan dan kawan-kawan’.

Jadi kita harus bagaimana..??, jadi kita harus bilang apa…??, Jadi kira-kira apa solusinya..??. Karena jelas-jelas segala ‘demo’ tidak ada gunanya..!!

Kalau kita ‘demo’ mogok makan, tentu ‘beliaoe’ nya tidak akan mau ikutan..!!. Kalau kita ‘demo’ mogok bicara tentu ‘beliaoe’ akan lebih tenang dan nyenyak tidurnya.., adapoen kalo kita ‘demo’ teriak-teriak, paling-paling akan dapat ancaman ’segera ditindak’, lha..kalo kita ‘demo’ dengan melakukan upaya ’swadaya warga’ maka ‘beliaoenya’  menolak mbantu biaya karena tidak ada dalam ‘rencana’.

Lha… terus kita kudu pegimana..? apa iya kudu bengong bae’ ?, apa mesti justru para warga sadayana yang harus ‘Tut Wuri Handayani’ kepada ‘Pengoeasa Van Depok’ seperti jaman ‘Hindia Holandia’

Nee…!! Nee..!!! Nee…!!!, makanya daripada itulah, mohon kepada para Sahabat semua yang poenya solusi atawa oesoelan, atawa uneg-uneg, atawa omel-omel, atawa terima nasib sahaja, sila-sila beri ‘comment’ laah..! sambil tetap gencar memanjatkan do’a agar ’semoea yang merasa berkoeasa van Depok’ ini segera kembali toemboeh noeraninya, kembali ‘normal’ pendengaran dan penglihatannya, serta kembali ‘loeroes’ tujuan niatnya. Amiin.
Seeing Stars

Posted in Depok, Khusus Depok, Yang Umum, sekitar | Tagged: , , , , , , , | 2 Comments »